Halo, Teman Eksam!
Banyak orang takut kolesterol, obesitas, atau penyakit jantung akibat kurang gerak. Tapi jarang yang sadar bahwa otak juga ikut terdampak. Padahal, organ paling vital ini sangat bergantung pada aliran darah, oksigen, dan stimulasi yang salah satunya datang dari aktivitas fisik.
Gaya hidup sedentary—terlalu banyak duduk, rebahan, dan minim aktivitas—membuat otak bekerja dalam kondisi yang tidak ideal. Efeknya bukan cuma rasa ngantuk atau susah fokus, tapi bisa berhubungan dengan penurunan fungsi memori hingga peningkatan risiko penyakit otak di masa depan.
Otak Butuh Gerak untuk “Bernapas” dengan Baik
Setiap kali Teman Eksam bergerak, detak jantung meningkat dan darah mengalir lebih cepat. Ini penting karena darah membawa oksigen dan glukosa, dua “bahan bakar” utama otak. Tanpa pergerakan, aliran darah cenderung lebih lambat, sehingga suplai nutrisi ke sel otak juga berkurang.
Kondisi ini bisa membuat kinerja otak melambat. Gejalanya sering terasa sebagai sulit berkonsentrasi, lambat berpikir, atau merasa “tidak tajam” seperti biasanya.
Kurang Gerak Dikaitkan dengan Penyusutan Otak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku kurang gerak berhubungan dengan atrofi otak, yaitu penyusutan volume otak di area tertentu. Bagian yang paling rentan adalah area yang berperan dalam memori dan pembelajaran, seperti hipokampus.
Artinya, kebiasaan duduk terlalu lama bukan hanya berdampak sementara, tetapi bisa berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif jangka panjang.
Risiko Alzheimer dan Demensia Bisa Meningkat
Teman Eksam, otak yang jarang distimulasi secara fisik memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan neurodegeneratif. Aktivitas fisik membantu membersihkan protein sisa metabolisme di otak. Tanpa gerak, penumpukan protein tertentu yang dikaitkan dengan Alzheimer bisa meningkat.
Bahkan ada temuan bahwa periode singkat tidak aktif dapat memengaruhi penanda biologis di otak yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
Hubungan Erat dengan Mood dan Kesehatan Mental
Pernah merasa mood berantakan saat terlalu lama di kamar tanpa aktivitas? Itu bukan kebetulan. Gerak tubuh merangsang pelepasan endorfin, serotonin, dan dopamin—zat kimia otak yang membantu mengatur suasana hati.
Kurang gerak membuat produksi zat-zat ini menurun, sehingga risiko stres, kecemasan, dan depresi meningkat. Inilah sebabnya aktivitas fisik sering direkomendasikan sebagai terapi pendukung kesehatan mental.
Otak Kehilangan “Pupuk” Alaminya
Olahraga memicu produksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), protein penting yang membantu pertumbuhan sel otak baru dan melindungi neuron yang sudah ada. BDNF sering disebut sebagai “pupuk untuk otak”.
Saat tubuh jarang bergerak, produksi BDNF ikut menurun. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi kemampuan belajar, memori, dan daya tahan otak terhadap penuaan.
Brain Fog: Kabut Mental Akibat Minim Aktivitas
Salah satu dampak kurang gerak pada otak yang sering dialami Teman Eksam adalah brain fog. Kondisi ini membuat pikiran terasa berkabut, sulit fokus, cepat lelah secara mental, dan kurang produktif. Penyebabnya berkaitan dengan sirkulasi darah, kadar oksigen, dan regulasi hormon stres yang terganggu.
Otak Manusia Memang Dirancang untuk Bergerak
Secara evolusi, manusia adalah makhluk aktif. Sistem saraf, sirkulasi, dan metabolisme kita berkembang dalam kondisi banyak bergerak. Ketika pola hidup berubah menjadi terlalu pasif, tubuh—termasuk otak—tidak berfungsi secara optimal.
Gerakan sederhana seperti berjalan, peregangan, atau aktivitas ringan sudah cukup memberi rangsangan positif bagi otak.
BACA JUGA: Olahraga Ringan Lebih Efektif? Ini Penjelasan Ilmiahnya
FAQ Seputar Duduk Terlalu Lama dan Kurang Gerak
1. Apakah duduk terlalu lama bisa langsung merusak otak?
Tidak langsung dalam waktu singkat, tetapi kebiasaan duduk lama secara terus-menerus dalam jangka panjang dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, aliran darah otak yang lebih rendah, dan peningkatan risiko gangguan memori.
2. Kenapa kurang gerak bikin sulit fokus?
Karena aliran darah dan oksigen ke otak menurun saat tubuh pasif. Otak jadi kekurangan “bahan bakar” sehingga muncul rasa mengantuk, lambat berpikir, dan brain fog.
3. Apakah olahraga berat wajib untuk menjaga kesehatan otak?
Tidak. Aktivitas ringan hingga sedang seperti jalan kaki, peregangan, atau bersepeda santai sudah cukup membantu meningkatkan sirkulasi darah dan produksi zat penting bagi otak seperti BDNF.
4. Benarkah kurang gerak bisa meningkatkan risiko Alzheimer?
Beberapa penelitian menunjukkan gaya hidup sedentary berhubungan dengan peningkatan penanda risiko penyakit neurodegeneratif, termasuk Alzheimer, terutama jika dibarengi pola hidup tidak sehat lainnya.
5. Seberapa sering kita harus bergerak agar otak tetap optimal?
Disarankan tidak duduk terus-menerus terlalu lama. Bergerak ringan setiap 30–60 menit dan rutin beraktivitas fisik harian membantu menjaga fungsi otak tetap baik.
Pentingnya Olahraga Meski Hanya Peregangan
Teman Eksam, kurang gerak bukan cuma masalah otot atau berat badan. Dampak kurang gerak pada otak meliputi penurunan fokus, gangguan mood, hingga risiko penyakit neurodegeneratif. Otak manusia butuh pergerakan agar tetap tajam, sehat, dan terlindungi dari penurunan fungsi.
Yuk, temukan lebih banyak panduan praktis untuk belajar, bekerja, dan berkembang bareng Eksam – Teman Belajar Kamu!