Kenapa Anak-Anak Lebih Cepat Belajar Dibanding Orang Dewasa? Ini Penjelasannya

Halo, Teman Eksam!

Pernah tidak merasa kalau anak kecil lebih mudah menguasai hal baru dibanding orang dewasa? Misalnya bahasa asing, teknologi baru, atau cara beradaptasi di lingkungan baru. Sementara orang dewasa sering merasa butuh waktu lebih lama, bahkan mudah lupa.

Ternyata, kemampuan belajar yang cepat pada anak bukan sekadar “bakat alami,” tapi ada penjelasan ilmiah dari neurosains. Mulai dari cara kerja otak, produksi hormon, hingga pola kebiasaan belajar. Semua berpengaruh pada kecepatan anak-anak menyerap informasi baru.


Fakta yang Harus Kamu Tahu

Anak usia 2–3 tahun bisa mempelajari hingga 10 kata baru per hari. Ini terjadi karena otak mereka sedang berada dalam fase percepatan pertumbuhan bahasa. Pada tahap ini, anak menangkap kosakata bukan hanya dari percakapan langsung, tetapi juga dari lingkungan, gerak tubuh, dan ekspresi orang lain.

Selain itu, 50% kemampuan belajar manusia terbentuk sebelum usia 4 tahun. Artinya, separuh pondasi kemampuan berpikir, memahami, dan memecahkan masalah sudah terbentuk bahkan sebelum anak masuk sekolah. Masa ini menjadi periode emas yang sangat menentukan perkembangan berikutnya.

Otak manusia juga mencapai peak plasticity atau tingkat kelenturan tertinggi sebelum usia 12 tahun. Pada fase ini, otak sangat mudah menyerap informasi baru dan membangun koneksi saraf. Setelah itu, proses belajar tetap berjalan, tetapi kecepatannya melambat dibanding masa kanak-kanak.

Walau begitu, kemampuan belajar manusia tidak berhenti di titik tertentu. Otak tetap dapat berkembang hingga usia lanjut selama terus dilatih, diberi rangsangan berpikir, dan mendapatkan pengalaman baru.


Kenapa Anak-Anak Lebih Cepat Belajar Dibanding Orang Dewasa?

1. Otak Anak Masih dalam Masa Golden Age

Penelitian neurosains menjelaskan bahwa usia 0–12 tahun merupakan masa golden age, yaitu periode di mana perkembangan otak berlangsung paling cepat dalam hidup manusia. Pada masa ini, otak sedang aktif membentuk dan memperkuat jaringan saraf baru.

Lebih dari 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia 12 tahun, sehingga kemampuan belajar anak berada pada titik terbaiknya. Otak anak sangat plastis, atau dalam istilah ilmiahnya, sangat mudah untuk membentuk sinapsis baru. Hal ini membuat anak-anak mampu:

  • Cepat menyerap bahasa baru, karena struktur otaknya masih responsif terhadap pola bahasa dan suara.
  • Mudah meniru perilaku, dari orang tua, guru, hingga lingkungan sekitarnya.
  • Cepat membangun kebiasaan baru, mulai dari rutinitas harian hingga gaya belajar.
  • Belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar, bahkan tanpa diajari secara formal.

Semakin muda usia seorang anak, semakin cepat otaknya membangun koneksi baru, sehingga proses belajar terasa lebih alami dan tidak terasa berat.


2. Neuroplastisitas Anak Mengalahkan Orang Dewasa

Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk berubah, tumbuh, dan memperbaiki diri berdasarkan pengalaman. Pada anak-anak, kemampuan ini berada pada level tertinggi, sedangkan pada orang dewasa perlahan menurun. Itulah sebabnya anak-anak:

  • Tidak takut mencoba, karena otaknya terbuka pada hal baru.
  • Tidak memiliki banyak hambatan psikologis, seperti rasa takut gagal atau minder.
  • Belajar secara spontan dan mengikuti rasa ingin tahu mereka.
  • Mudah menerima cara baru, karena belum terlalu terjebak dengan pola tetap.

Sementara pada orang dewasa, proses belajar sering terhambat oleh hal-hal seperti:

  • Overthinking, terlalu banyak memikirkan kemungkinan gagal.
  • Takut salah, karena khawatir menanggung penilaian dari orang lain.
  • Terlalu fokus pada kritik diri, sehingga kurang menikmati proses belajar.
  • Lebih menuntut hasil cepat, bukan perjalanan belajar itu sendiri.

Otak anak yang lebih fleksibel inilah yang membuat kemampuan belajar mereka lebih cepat dibandingkan orang dewasa.


3. Anak Selalu Belajar Secara Natural Lewat Bermain

Orang dewasa biasanya belajar melalui proses formal seperti duduk mendengarkan penjelasan, membaca buku, mencatat dan memaksa konsentrasi. Metode ini sering membuat pembelajaran terasa berat dan melelahkan. Sebaliknya, anak-anak belajar melalui eksplorasi, di antaranya bermain dan mengulang pengalaman secara alami

Cara ini membuat proses belajar menyenangkan, tidak ada tekanan, lebih mudah disimpan otak dan melibatkan emosi dan pengalaman langsung Neurosains menemukan bahwa otak menyerap informasi lebih baik ketika seseorang belajar dalam kondisi senang. Inilah rahasia kenapa bermain adalah aktivitas belajar terbaik untuk anak-anak.


4. Anak Tidak Takut Gagal

Banyak orang dewasa belajar dengan tekanan psikologis, misalnya takut gagal, takut dinilai orang, dan malu mencoba hal baru. Hal ini membuat proses belajar menjadi tegang dan kurang efektif.

Sebaliknya anak-anak lebih acuh dan tidak peduli jika salah. Mereka akan mengulang sampai berhasil. Menurut penelitian Harvard, semakin sering otak mempelajari sesuatu tanpa rasa takut, semakin kuat jaringan memorinya terbentuk. Ini menunjukkan bahwa rasa aman dan bebas mencoba adalah fondasi penting dalam proses belajar anak.


5. Anak Punya Lebih Banyak Waktu untuk Fokus pada Belajar

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak tidak terbebani banyak tanggung jawab. Mereka tidak perlu memikirkan pekerjaan, tagihan, keluarga, dan tekanan sosial. Karena itu, energi mental mereka bisa tercurah hampir penuh untuk bereksplorasi dan menyerap hal baru.

Sementara orang dewasa harus membagi fokus ke banyak aspek kehidupan sekaligus, sehingga waktu dan kapasitas belajar sering terbatas. Perbedaan inilah yang membuat anak-anak mampu berkembang lebih cepat dalam waktu yang relatif singkat.


6. Produksi Hormon Pembentuk Ingatan Lebih Tinggi

Otak anak menghasilkan hormon pembentuk memori dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Beberapa di antaranya:

  • BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor)
    Membantu pertumbuhan dan regenerasi sel saraf, sehingga memudahkan pembentukan memori baru.
  • Dopamin
    Meningkatkan rasa senang, motivasi, dan keinginan untuk terus belajar.
  • Asetilkolin
    Memperkuat proses pembentukan memori jangka panjang.

Kombinasi ketiga hormon ini menciptakan lingkungan biologis yang ideal untuk belajar, membuat anak-anak menyerap dan mengingat materi dengan lebih cepat.


Tapi Tenang, Orang Dewasa Juga Bisa Cepat Belajar

Walaupun neuroplastisitas menurun seiring usia, orang dewasa tetap bisa meningkatkan kemampuan belajar dengan cara:

  • Belajar lewat praktik, bukan teori saja
  • Mengulang secara berkala (spaced repetition)
  • Mengasosiasikan materi dengan emosi
  • Menggunakan metode belajar yang menyenangkan
  • Tidak takut salah
  • Mengurangi distraksi digital

Otak itu seperti otot, semakin sering digunakan, semakin kuat.


BACA JUGA: Kelebihan Informasi, Kekurangan Pemahaman: Efek Overinformasi di Era Digital

FAQ Seputar Anak-Anak Lebih Cepat Belajar

1. Benarkah orang dewasa lebih sulit belajar?
Secara umum, ya. Tapi itu bukan karena tidak mampu. Melainkan karena neuroplastisitas menurun dan orang dewasa memiliki lebih banyak distraksi serta hambatan mental.

2. Apakah anak-anak lebih cepat belajar bahasa?
Benar. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan belajar bahasa kedua menurun setelah usia 12 tahun, saat plastisitas otak melambat.

3. Bisa nggak orang dewasa belajar secepat anak kecil?
Bisa, jika rajin latihan, disiplin, tidak takut salah, dan mengurangi tekanan belajar


Belajar Bukan Tentang Usia, Tapi Kemauan untuk Terus Berkembang!

Sekarang Teman Eksam sudah tahu kenapa anak-anak lebih cepat belajar dibanding orang dewasa, bukan? Otak mereka masih berkembang pesat, neuroplastisitas tinggi, tidak takut salah, dan terbiasa belajar lewat bermain. Namun bukan berarti orang dewasa tidak bisa mengejar ketertinggalan.

Otak tetap bisa berubah sepanjang hidup, hanya caranya yang berbeda. Jika orang dewasa mau belajar dengan cara yang tepat, konsisten, dan bebas dari rasa takut gagal, hasilnya tetap bisa luar biasa.

Yuk, temukan lebih banyak panduan praktis untuk belajar, bekerja, dan berkembang bareng Eksam – Teman Belajar Kamu!

Leave a Comment