Mengapa Jumlah Rakaat Salat Tarawih Bisa Berbeda-beda? Ini Penjelasannya!

Halo, Teman Eksam!

Salat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang sangat dinanti oleh umat Islam setiap bulan Ramadan. Meskipun umumnya dilakukan secara berjamaah setelah salat Isya, ternyata jumlah rakaat salat Tarawih tidak seragam di seluruh dunia, sebagian tempat 20 rakaat, ada pula yang 8 atau 12 rakaat. Teman Eksam mungkin pernah bertanya, “Kenapa bisa berbeda-beda begitu?”

Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap, sistematis, dan berdasarkan sumber sahih kenapa jumlah rakaat salat Tarawih bisa berbeda dan bagaimana para ulama memberikan penjelasan teologis dan historisnya.


1. Dasar Salat Tarawih: Sunnah Ramadan yang Sangat Dianjurkan

Pertama, kita perlu ingat bahwa salat Tarawih masuk kategori ibadah sunnah Muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan dilakukan secara rutin, terutama saat Ramadan. Rasulullah SAW sendiri pernah mengerjakan Tarawih bersama para sahabat di masjid, namun beliau tidak menetapkan jumlah rakaat secara eksplisit.

Karena itu, ijtihad para sahabat dan generasi berikutnya dalam menentukan jumlah rakaat Tarawih sangat memengaruhi kebiasaan dan praktik yang berkembang di berbagai daerah.


2. Tidak Ada Dalil yang Tetap Tentang Jumlah Rakaat Tarawih

Kalau kita melihat riwayat salat Tarawih pada masa Nabi Muhammad SAW, tidak ada hadits mutawatir (yang sangat kuat sanadnya) yang menetapkan angka pasti berapa rakaat Tarawih harusnya dilakukan. Artinya, jumlah rakaatnya tidak wajib secara tegas, sehingga ulama memberikan kelonggaran.

Karena itu, ada yang melakukan 8 rakaat, ada yang 20 rakaat, dan bahkan jumlah lainnya. Ini bukan berarti ada yang salah, semuanya masuk kategori yang dibolehkan selama mengikuti prinsip ibadah sunnah sesuai tuntunan fiqh.


3. Pendapat Madzhab Dalam Jumlah Rakaat Tarawih

Penyebab utama variasi jumlah rakaat Tarawih adalah perbedaan interpretasi dan pendapat madzhab para ulama fiqh:

• Madzhab Syafi’i dan Hanbali

Umumnya menganjurkan 20 rakaat Tarawih, yang sering dipraktekkan di banyak masjid dan negara. Jumlah ini berdasarkan kebiasaan ketika khalifah Umar bin Khattab memimpin Tarawih berjamaah di masa awal Islam.

• Madzhab Hanafi dan Maliki

Beberapa ulama dari kedua madzhab ini juga menerima jumlah lain, seperti 8 atau 12 rakaat, dan menegaskan bahwa jumlah itu tidak mengurangi nilai fadilah ibadah selama niat dan pelaksanaan sesuai syariat.

• Praktik di Berbagai Negara

Sejak zaman sahabat, kebiasaan ini tersebar luas, kemudian berkembang menurut tradisi lokal masing-masing masjid atau komunitas Muslim.


4. Pandangan Ulama Tentang Jumlah Tarawih

Para ulama menyepakati bahwa jumlah rakaat Tarawih itu fleksibel dan bukan kewajiban yang ketat. Ini penjelasan beberapa tokoh penting:

  • Imam Syafi’i berpendapat bahwa salat Tarawih itu sunnah dan boleh dilakukan 8, 12, atau 20 rakaat tanpa dosa.
  • Imam Malik juga berpendapat jumlahnya sunnah dan tidak wajib mengikuti angka tertentu.
  • Imam Abu Hanifah bahkan mengatakan bahwa tarawih dilakukan secara ringkas tanpa angka yang baku.

Semua pendapat ini menunjukkan bahwa yang paling penting adalah kualitas ibadah, bukan angka semata.


5. Hadiah dan Keutamaan Salat Tarawih

Meskipun jumlah rakaatnya bisa berbeda, namun keutamaan salat Tarawih tetap sama, yaitu ibadah ini memiliki pahala besar bila dilakukan dengan khusyuk, khususnya di bulan Ramadan. Ulama klasik dan kontemporer menekankan beberapa poin berikut:

  • Mendekatkan diri kepada Allah SWT
  • Menghapus dosa-dosa kecil
  • Menjadi penguat iman dan amal sepanjang Ramadan
  • Meningkatkan konsistensi dalam ibadah sunnah lainnya

6. Kenapa Banyak Masjid Memilih 20 Rakaat?

Angka 20 rakaat menjadi banyak pilihan karena tradisi yang dibangun sejak masa pemerintahan Utsmaniyah dan khalifah Umar bin Khattab saat memformalkan salat Tarawih berjamaah. Tradisi ini kemudian diajarkan secara turun-temurun di berbagai lembaga pendidikan Islam dan masjid besar.

Meski begitu, jumlah tersebut tetap bukan hal wajib, melainkan sebagai bentuk kelapangan ijtihad ulama di masa lalu.


7. Pelaksanaan Salat Tarawih di Sekolah dan Komunitas

Di Indonesia dan banyak negara Muslim lain, praktik Tarawih biasanya dilakukan sebagai:

  1. Tarawih berjamaah di masjid setelah Isya
  2. Tarawih di rumah bersama keluarga
  3. Tarawih di sekolah atau komunitas Muslim

Semua ini mengikuti prinsip bahwa salat Tarawih adalah ibadah sunnah yang fleksibel dalam jumlah rakaat.


Fakta Tambahan Tentang Tradisi Salat Tarawih

  • Tarawih berasal dari kata Arab “Tarwih” yang berarti istirahat atau nyaman, karena salat ini memberi ketenangan batin.
  • Salat Tarawih dan Witir biasanya dilakukan bersamaan, dengan witir sebagai penutup sunnah malam.
  • Beberapa ulama menyebut bahwa yang utama adalah tarawih + witir minimal 8 rakaat, bukan angka tertentu.

BACA JUGA: 7 Tanda Puasa Ramadan Diterima Allah SWT, Lebih dari Sekadar Ibadah Fisik

FAQ Seputar Jumlah Rakaat Tarawih

1. Haruskah Tarawih dilakukan 20 rakaat?
Tidak wajib. Jumlah 20 hanya hasil tradisi dan ijtihad, tetapi Tarawih tetap sah meskipun 8 atau 12 rakaat.

2. Apa dalil yang menyebut jumlah tertentu?
Tidak ada dalil pasti dari hadis Nabi yang menetapkan angka tertentu, sehingga para ulama memberi kelonggaran.

3. Apakah sah jika Tarawih dilakukan di rumah?
Ya. Tarawih boleh sah dilakukan secara berjamaah di masjid maupun di rumah bersama keluarga.

4. Berapa rakaat Tarawih & Witir yang dianjurkan?
Yang umum dianjurkan adalah Tarawih dilanjut Witir. Banyak ulama menyarankan minimal 8 rakaat termasuk witir.

5. Apakah jumlah rakaat mempengaruhi pahala?
Jumlah rakaat sendiri bukan yang menentukan pahala, kualitas niat, khusyuk, dan kekonsistenan ibadah jauh lebih bermakna.


Yang Terpenting Bukan Angka, Tapi Kualitas Ibadahmu!

Teman Eksam, pilihan jumlah rakaat dalam salat Tarawih bukan masalah yang “harus diperdebatkan” secara tegang, karena dasarnya adalah sunnah yang fleksibel, bukan kewajiban yang baku. Jumlah rakaat yang berbeda-beda terjadi karena perbedaan ijtihad para ulama, tradisi komunitas, dan interpretasi sejarah pelaksanaan salat sunnah ini.

Yang terpenting bukan angka, tetapi kualitas ibadahmu, mulai dari niat yang ikhlas, kekhusyukan dalam salat, serta konsistensi melaksanakan sunnah di bulan Ramadan.

Yuk, temukan lebih banyak panduan praktis untuk belajar, bekerja, dan berkembang bareng Eksam – Teman Belajar Kamu!

Leave a Comment